Ritual Dawuhan yang sudah menjadi tradisi turun temurun warga Kauman Kidul

Di Salatiga banyak sekali acara tradisi yang digelar bertujuan untuk merawat alam. Salah satu upacara tradisi yang sangat lekat dengan masyarakat Kauman Kidul adalah tradisi “Dawuhan” yang sampai saat ini masih dilestarikan masyarakat RW 01 Kelurahan Kauman Kidul Kec. Sidorejo Salatiga. Acara yang digelar pada tanggal 02 Agustus 2019 hari Jumat Wage dalam bulan Besar menurut sistem perhitungan kalender Jawa. Acara ini berbeda dengan acara tradisi lain yang kerap kali diadakan oleh masyarakat Jawa pada umumnya.

Jika upacara ruwahan pada umumnya dilakukan untuk mengirim doa kepada sanak keluarga yang telah meninggal dunia atau di tempat-tempat yang dianggap sebagai tempat sumarenya para leluhur seperti pemakaman atau punden-punden desa. Tradisi Dawuhan ini justru dilakukan di tempat-tempat yang terdapat sumber mata airnya. Sebagaimana upacara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa pada umumnya, upacara dawuhan ini juga ditemui beragam jenis sesaji. Adapun sesaji yang digunakan dalam upacara ini antara lain adalah beragam macam bunga, kemenyan, dan nasi golong atau nasi berkat. Bunga dan nasi golong ini dibawa oleh setiap warga yang menggelar acara tersebut. Tujuan penggelaran acara tradisi ini selain untuk mengucapkan rasa syukur atas karunia berupa sumber air yang melimpah juga digunakan sebagai ajang untuk memperat persaudaraan masyarakat sekitar.

Untuk masyarakat Kauman Kidul sendiri upacara Dawuhan ini digelar di sebuah kopen (kebun karet) yang terletak di dusun Batur. Menurut keyakinan warga setempat tradisi Dawuhan ini merupakan upacara yang diturunkan oleh leluhurmereka yang bertujuan untuk menjaga dan melestarikan sumber mata air.

Di sisi lain tradisi ini juga dgelar sebagai bentuk ucapan rasa terima kasih kepada Tuhan. Dan yang tidak kalah pentingnya melalui tradisi ini masyarakat Kauman Kidul bisa saling bekerjasama untuk merawat kelestarian sumber mata air tersebut serta menjaga keharmonisan hidup bertetangga. Tentang doa yang dipanjatkan selain ucapan terima kasih juga permohonan agar masyarakat desa tansah mendapat keberkahan sekaligus perlindungan dari segala hal yang tidak baik. Setelah selesai di do’akan nasi berkat yang dibawa oleh masyarakat tadi lantas dibagi-bagikan kepada mereka yang hadir pagi itu. Uniknya dalam pembagian nasi berkat ini mereka tidak akan membawa berkat yang mereka bawa tadi. Berkat dari setiap yang datang dalam upacara ini akan ditukar dengan warga lain.

Selain itu salah seorang sesepuh desa juga akan membagi-bagikan ayam yang dimasak dengan cara direbus kepada mereka yang hadir pada hari tersebut. Daging ayam yang digunakan dalam acara ini dimasak dengan menggunakan dua cara yakni dimasak dengan cara dipanggang dan ada ayam lain yang dimasak dengan cara direbus dengan menggunakan bumbu-bumbu khusus. Setelah acara selesai sejumlah berkat akan dimakan bersama di lokasi. Sedangkan sebagian lagi akan dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Cara ini ditempuh bertujuan untuk mengguggah kesadaran manusia agar tidak hanya mencintai alam saja, tetapi juga mengandung pesan agar sebagai manusia mau kita harus mau berbagi dengan sesama secara ikhlas.(Bror, 03/08/2019)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *