Pawai Gunungan dan Arak-arakan Pahargyan Panen Agung Kelurahan Kauman Kidul

Hari Kedua – Pawai Gunungan

Salatiga – Dalam rangka mengembangkan potensi Kampung Wisata Si Talang, mempromosikan hasil pertanian organik, hasil budi daya ikan air tawar dan pengembangan produk UMKM di Kelurahan Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga dengan pendekatan kepariwisataan untuk mewujudkan masyarakat mandiri, kreativ serta tanggap terhadap segala bentuk potensi bencana dan atau ketahanan pangan. Kekuatan gerakan masyarakat untuk melestarikan seni budaya, kerukunan, Pahargyan Panen Agung Kampung Wisata Si Talang, diharapkan mampu memberikan warna tersendiri dalam pembentukan destinasi wisata baru di Kota Salatiga.

Ungkap rasa syukur kepada Tuhan yang maha esa atas hasil panen yang melimpah, ribuan warga Kauman Kidul Kota Salatiga menggelar tradisi Pahargyan Panen Agung yang digagas Pokdarwis Si Talang Kauman Kidul dengan mengarak gunungan hasil bumi lalu diperebuitkan serta dimakan bersama-sama warga untuk ngalap berkah.

Warga Kelurahan Kauman Kidul mempunyai komitmen mempertahankan alam yang ada untuk menjadi daya tarik wisata. Alam berupa persawahan itu diupayakan tidak beralih fungsi menjadi fungsi lain selain untuk pertanian yang selama ini sudah berjalan.

Pahargyan Panen Agung  memadukan wisata alam dan budaya. Ke depannya kegiatan ini bisa diselenggarakan setiap tahun yang diharapkan bisa menjadi daya tarik wisata. Terlebih Kauman Kidul pada tahun 2019 ini sudah ditetapkan menjadi kampung wisata oleh Pemkot Salatiga.

“Masyarakat di sini antusias mempertahankan area persawahan. Selain hasil sawahnya yang bisa untuk menghidupi warga, juga berpotensi mendatangkan wisata edukasi.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) “Si Talang” Kauman Kidul, H. Rohmat mengatakan, komitmen warga terhadap kelestarian alam sudah ditunjukkan dengan konsolidasi tanah yang dilakukan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Artinya tanah-tanah di wilayah ini sudah disertifikatkan hak milik warga tetapi penggunaanya hanya untuk pertanian yang selama ini sudah dilakukan. Tanah di daerah ini cukup produktif dan subur karena mendapatkan aliran air sepanjang tahun dari sumber air Senjoyo.

“Sistem ini pertanian organik ini juga bisa untuk daya tarik wisata edukasi. Kami siap mengajari wisatawan yang ingin belajar bertani tanpa pupuk dan pestisida kimia. Hasil tanaman organik tentu menyehatkan dan banyak dicari masyarakat di zaman sekarang dan akan datang,” paparnya. (Minggu, 27/10/2019)

Sharing is caring

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *